Kain Indonesia


21
Sep 10

Batik Tidak Selalu Mahal

Sejauh ini kain batik asli selalu diidentikkan dengan harga mahal, sehingga membuat para konsumen lebih memilih membeli tekstil bermotif batik. Kesalahan yang sering terjadi pada konsumen adalah tidak dapat membedakan kain batik dan tekstil bermotif batik.

Maka dari itu Paguyuban Pencinta Batik Sekar Jagad Yogyakarta mencoba menghadirkan pameran batik dengan harga terjangkau, sekaligus mensosialisasi kain batik asli dan tekstil bermotif batik. Pameran yang diadakan 27-29 Agustus di gedung bekas Hotel Toegoe di Jalan Mangkubumi, Yogyakarta ini, menjual batik mulai harga Rp. 50.000.

Batik yang ditawarkan adalah batik cap. Pameran ini pun membuktikan bahwa batik memang tidak selalu mahal.


21
Sep 10

Teknik-Teknik Ulos yang Mengagumkan

Selama ini teknik double ikat yang sangat terkenal, adalah berasal dari Bali, kain Geringsing. Namun tak disangka bahwa pembuatan  Ulos pun ada yang menggunakan teknik double songket yang cukup mengejutkan dunia tekstil internasional.

Selain teknik double songket, terdapat juga beberapa teknik lain yang diterapkan dalam sebuah tenun Ulos. Teknik unik yang tidak kalah mempesona dalam dunia fashion, yaitu teknik tapestry yang biasa digunakan pada pembuatan karpet.

Tidak hanya dua teknik tersebut, masih ada teknik sirat yang memadukan tiga jenis sirat. Mulai dari sirat Tojuk yang ditenun, Sirat Pottir yang dijalin dan Sirat Simata yang memasukkan batu permata. Sungguh mempesona bukan?


21
Sep 10

CTI Kembangkan Budaya Tenun pada Masyarakat

Demi melanggengkan budaya tenun, CTI [Cita Tenun Indonesia] memperluas daerah binaan. Sejak dua tahun lalu, mereka melakukan binaan di wilayah Baduy di Banten, Klungkung, Karang Asem, Singaraja dan Seraya di Bali, Indralaya dan Ogan Ilir di Sumatra Selatan serta seluruh kabupaten di Sulawesi Tenggara.

Bahkan mulai tahun ini, masih meluas hingga ke Garut dan Majalaya di Jawa Barat, Pekalongan di Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur serta Kalimantan Timur. Seluruh upaya ini menunjukkan peningkatan produksi dengan kualitas yang baik dan memenuhi standar internasional.

Tak hanya itu, CTI juga akan memfasilitasi pemasaran hingga ke Den Haag dan Amsterdam, Milan, Mumbai dan Paris.


21
Sep 10

Bisnis Tenun Tahan Banting

Jika bisnis banyak yang gulung tikar akibat krisis moneter, lain halnya dengan bisnis sarung tenun ikat. Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari Direktur Utama PT Asaputex Jaya Trading and Co, Jamaludin Ali Alkatiri.

Dari pengalaman pria berusia 39 ini, dalam bergulat dengan dunia bisnis, menyatakan tenun lebih tahan banting oleh terpaan krisis ekonomi. Selain itu, pasar ekspornya yang terbuka lebar baik di dalam maupun di luar negeri dan tidak dibatasi dengan kuota sangat menguntungkan.

Terbukti dari perusahaan yang didirikan sejak 1947 oleh Ali Salim Alkatiri, ayah Jamaludin, ternyata mampu merambah mancanegara seperti kawasan Afrika dan Timur Tengah, atau negara-negara lain


21
Sep 10

Tenun Ikuti Jejak Batik

Mengikuti jejak batik, wayang dan, keris, tenun pun ingin mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia. Hal ini dilakukan mengingat pentingnya pengakuan dari masyarakat dunia atas tenun, agar tidak diserobot oleh bangsa lain.

Usulan ini diprakarsai dirintis oleh Cita Tenun Indonesia (CTI) dan didukung sepenuhnya oleh isteri presiden, Ani Yudhoyono. Sebagai langkah awal CTI meluncurkan buku berbahasa Inggris “Tenun: Handwoven Textile of Indonesia” untuk memperkenalkan tenun Indonesia kepada masyarakat dunia.

“Upaya ini dapat berhasil apabila seluruh Bangsa Indonesia bergandengan tangan dan turut menggaungkan keberadaan tenun sebagai warisan Bangsa Indonesia,” ujar Ketua Panitia Pesta Tenun Sari Hartanto Wibowo.


21
Sep 10

Dorce Lussi, Pengusaha Tenun yang Sukses

Omzet Rp. 60 juta per bulan? Wow, nilai yang fantastis bukan? Namun, nilai ini tidak begitu saja datang. Butuh perjuangan yang kenal lelah dari perempuan asal Rote Ndao ini untuk mendapatkan nilai tersebut dengan usahanya di bidang pakaian dan souvenir berbahan dasar tenun.

Dorce Lussi, nama perempuan yang telah berhasil meraih omzet tersebut. Semakin menarik, ketika di balik perjuangannya ternyata tersimpan niat mulai untuk melestarikan budaya dan warisan leluhur, terutama tenun di wilayah NTT.

Dengan memberi keterampilan tenun kepada masyarakat luas, Dorce tidak hanya mendapatkan sukses finansial, tetapi juga sukses mengangkat perekonomian masyarakat NTT.


21
Sep 10

Ulos, ‘Perantara’ Masyarakat Batak

Mari kita mulai menengok sejarah dan filosofi di balik kain Ulos. Tak mungkin dapat ditepis jika secarik kain bisa dipercaya memiliki banyak arti bagi nenek moyang kita. Menurut majalah Mahligai, ulos dikenal oleh masyarakat Batak sejak abad ke-14, seiring masuknya alat tenun tangan dari India.

Sebenarnya Ulos dapat digunakan untuk pakaian sehari-hari. Namun, pada acara-acara tertentu, ulos dianggap sebagai perantara pemberi berkat dari orang yang dihormati, Acara pemberiannya dinamakan mangulosi.

Selain itu, ulos juga dianggap sebagai perlambang kasih sayang. Semisal, sehelai ulos pemberian orang tua saat pernikahan, dianggap sebagai sarana memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar anaknya diberi kebahagiaan.


21
Sep 10

Alfonsa Peduli Tenun Flores

Kepedulian setiap orang terhadap budaya bangsa dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya wanita asal Flores, Alfonsa Ragha Horeng (36), yang sangat konsisten melestarikan kain tenun ikat asal daerahnya.

Upaya yang dilakukannya berupa pembinaan, dimana dia melakukannya pada ratusan wanita perajin tenun. Alfonsa sendiri sudah dapat menenun sejak SMP. Wanita yang pernah bekerja di Surabaya ini mempelopori terbentuknya Sentra Industri Lokal Lepo Lorun (STILL) pada Oktober 2003.

Alfonsa tidak hanya membina proses pembuatan tenun, namun juga upaya untuk mendistribusikan atau menjual hasil karya dari para kelompok binaannya yang telah tersebar di 12 desa di Pulau Flores dan Pulau Palue.


21
Sep 10

Ronald Riset Tenun Hingga Asia Tengah

Pesona tenun ternyata dimanfaatkan dengan baik oleh Ronald V. Gaghana, perancang muda yang pernah bekerja bersama Biyan Wanaatmadja. Sejak 2006, dia mengeluarkan lini Mulla yang menawarkan desain bergaya unik.

Saat ini, Ronald melakukan riset busana muslim ke Asia Tengah. Dia terinspirasi dengan keunikan motif ikat dari zaman Moghul yakni kerajaan Islam yang sempat menguasai India, Turki, dan Persia. Dari situ, Ronald mencoba menguliknya dengan aplikasi tenun dan bordir.

Koleksi tersebut ia cobakan pada busana kaftan, gaun panjang, serta coat panjang dan pendek. Bahan-bahan yang ia gunakan pun lembut dan ringan, antaranya Thai silk, sifon sutera, dan sutera ATBM.


21
Sep 10

Ulos Batak Siap Rajai Dunia

Merdi Sihombing, salah satu perancang busana Jakarta mengatakan Ulos Batak akan menjadi raja kain di dunia. Keyakinan ini didasari oleh makna filosofis dan kekuatan yang terkandung di dalam kain Ulos sangat dalam dan luas.

Dalam pengerjaannya pun, masih menggunakan peralatan yang sederhana. Namun tetap menawarkan berbagai corak yang menggambarkan nilai seni lewat perpaduan warna dan gorga.

Selain itu, Merdi juga mengatakan ulos merupakan kain yang tidak sebatas untuk keperluan adat.

Bukti pelestarian yang dia lakukan sesuai dengan bidang yang dikuasai yaitu fashion. Bahkan dalam waktu dekat, warisan budaya ini akan dibawanya mewakili Indonesia mengikuti perlombaan tingkat Asean di Bangkok.

Page 5 of 12« First...34567...10...Last »